Udah Grepe-Grepe Ditinggalin, Oknum Kepala Pekon PHP Anak SMA di Room Karaoke

Ilustrasi Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

WARTAMU.ID, Tanggamus – Oknum Kepala Pekon (Kakon) Pariaman, yang juga selaku Sekretaris Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kecamatan Gunung Alif, Kabupaten Tanggamus diduga memperdaya ABG dibawah umur, diroom Karaoke, di Pringsewu. Sudah dibugilin dan gerepe grepe, janji dikasi Rp300 ribu, tapi ditinggal begitu saja.

Informasi dilokasi kejadian menyebutkan, oknum kepala pekon bersama aparaturnya nge-room disalah satu karoke di wilayah Pringsewu dan menjanjikan akan uang Rp300 ribu, kepada salah satu ABG berinisial T yang juga pelajar SMA, tapi zong.

Menurut T, awalnya dia bersama dua temannya sedang karaokean. Pada saat itu aparatur dan kakon tersebut bergabung dengan T bersama dua orang temannya. Sebelumnya mereka sempat berkenalan di depan Karaoke. “Awalnya kami berkenalan dengan mereka diparkiran dan saat itu temannya Kepala Desa itu minta nomor hp saya, ya saya kasih. Terus saya dengan temen-temen lagi karoke, temennya lurah nge-wa (WhatsApp) minta gabung,” katanya.

Pertama temennya Kepala pekon yang masuk, kemudian disusul dengan lurahnya. “Pas lurah masuk temennya ngomong ke saya, ini lurah, dia banyak uang tenang aja,” ujar T.

Bersamaan dengan itu, T ditinggal teman-teman keluar. Tinggal diroom hanya dirinya dan kakon tersebut. “Setelah itu temen-teman saya dan temannya pak lurah keluar, tinggal berdua saya dengan pak lurah didalam ruangan karoke. Pada saat kami berdua pak lurah membuka baju saya, tapi saya tidak mau,” kata T.

Kemudian, lanjut T, oknum Kepala Pekon itu meminta T membuka bajunya. “Pak lurah ngomong ya uda buka aja baju kamu nanti saya kasih uang tiga ratus ribu. Tetapi setelah karoke selesai hingga pulang saya tidak dikasih uang sepeserpun sama pak lurah,” ungkap T, dilangsir gerbang1news.com.

Selain itu, W teman T mengatakan, untuk minuman hingga sewa room bukan kakon dan aparatur tersebut yang bayar. “Ya, kerena kondisi pak lurah sudah mabok, ya makanya saya keluar dari room, memang benar waktu itu teman saya T dan pak lurah berdua didalam ruangan room, ya sekitar setengah jam lah mereka berdua di dalam ruangan,” kata W.

Setelah itu pak lurah turun (red-keluar) dari room terus disusul temannya T, “Saat itu teman saya turun dari room dengan keadaan bajunya terbuka, terus teman saya langsung menghampiri saya dan ngomong, mba-mba saya sudah ditelanjangi tapi saya gak dikasih duit sama pak lurah. Enak bener pak lurah itu, uda temen saya gak dikasih uang, terus minum gratis, sewa room bukan dia (red-kakon) yang bayar, pokoknya semua serba gratis- tis,” ujar W kesal.

W mengatakan, setelah selesai karoke dirinya pulang, pada saat itu teman dari kakon tersebut menjemput dirinya untuk jalan-jalan dan berbelanja hingga akan memberikan uang kepada dirinya. “Selesai karoke saya langsung pulang ke rumah, tiba-tiba temannya pak lurah itu nelpon mau jemput saya untuk jalan-jalan belanja dan akan ngasih uang ke saya,” kata W.

Tapi W ngomong jika ada pak lurah (red- kakon) W tidak mau. “Saya bilang kalo ada pak lurah saya gak mau. Karena temannya pak lurah sendirian saya pun mau. Setelah saya didalam mobil teman pak lurah ngomong saya ngambil uang dulu ya, pada saat itu perasaan saya gak enak soalnya kok jauh bener ngambil duitnya,” kata W.

Sampai di Pekon kejayaan mobil berhenti, dan temen pak lurah nelpon bicara bahasa daerah. “Dia nelpon ngomong bahasa daerah. Ini ceweknya uda sama saya tapi dia pake baju tidur, dari situ saya ketakutan, pada saat temen pak lurah keluar mobil. Diam-diam saya keluar juga dari mobil dan akhirnya saya ditolong ibu-ibu dan sembunyi dirumah ibu tersebut hingga paman angkat saya datang menjemput,” kata W.

Paman angkat W, Hen datang karena ditelpon W, dan minta dijemput di pekon Kejayaan, Kecamatan Talang Padang. “Waktu itu saya ditelpon sama W tapi yang ngomong orang lain, ini keponakan kamu ada dirumah saya, di Kejayaan tolong jemput dia sekarang juga. Saya jawab ya sudah, saya langsung berangkat,” kata Hen.

Sampai di sana, W langsung masuk ke mobil, “Pada saat mau pulang saya ditahan sama mereka (red-rekan kakon) jangan dulu pulang, saya disuruh nunggu pak lurah. Setelah pak lurah Pariaman datang saya sempat berdebat. Dan saat itu juga pak lurah marah-marah sama W, ngomong sama W, ya sudah selesai ya, gak ada urusan lagi ya, sambil memukul kaca pintu mobil saya berulang-ulang,” kata Hen.

Hen mengaku diam saja, karena tidak tahu masalahnya. “Ya saya diam karena saya gak tau apa permasalahan, kok pak lurah marah-marah ke W, ya saat itu saya liat mata pak lurah merah, seperti lagi mabuk, hingga akhirnya saya pulang sama W,” ungkap Hen.

Ibu Li warga pekon Kejayaan yang menolong W mengatakan, dirinya benar telah menolong W hingga membantu menelpon Hen paman angkat dari W. “Saat itu saya mau ke warung tiba-tiba ada perempuan pegang tangan saya. Terus perempuan itu ngomong, buk tolong saya,” katanya.

“Kerena perempuan itu gemetaran, mukanya ketakutan, ya saya tolong dia, laki-laki aja pasti kasian lihat perempuan itu, apalagi saya sesama perempuan, ya saya tolong dia. Kalau masalah ribut-ribut setelah paman perempuan itu datang ya saya gak tau, memang dari dalam rumah kedengaran ribut-ribut didepan tapi saya gak tau apa permasalahannya,” tutur ibu Li.

Ditempat yang sama, HY warga Pekon Kejayaan mengatakan, pada saat itu ada pria yang membawa mobil putih berhenti dan bertanya kepada dirinya, pak lihat perempuan istri lewat disini tidak, dirinya pun menjawab tidak melihat. “Ya benar waktu itu ada ribut-ribut dipinggir jalan, saya hampiri dan saya tanya ada apa dijawab oleh salah satu dari mereka, gak ada apa-apa cuma masalah biasa,” kata HY.

“Tapi saya lihat di dalam mobil ada laki-laki dan disebelahnya ada cewek, terus diluar mobil saya lihat ada kakon kejayaan, saat itu saya lihat mata kakon kejayaan itu merah sepertinya sedang mabuk, setelah itu saya langsung pulang, ya saya pikir paling-paling masalah cewek,” ujar HY warga kejayaan.

Sementara Kepala Pekon Pariaman, Kecamatan Gunung Alif saat dikonfirmasi via telepon mengatakan, dirinya membantah semuat yang disampaikan T, W, dan hen. “Ya enggak lah lur, ngapain, enggak-gak ada lah, Insyallah lur sampean percaya lah sama saya, saya gak gak enggak mau aneh-aneh, saya kesana karaoke sama kaur pemerintahan saya, sama staf, saya hanya mesen kopi dua gelas terus aqua satu udah,” ujar kakon Pariaman.

Kakon membenarkan bahwa rekannya menjemput dan membawa W hingga ke Pekon Kejayaan. Dan dirinya pun tidak merasa jika ia marah-marah hingga memukul-mukul kaca pintu mobil milik Hen pada saat W dijemput pulang. “Enggak lah lur ngapain saya mukul-mukul, saya cuma nanya aja, enggak-gak pernah saya mukul-mukul. Enggak ada saya bicara kasar-kasar,” kata kakon.(gerbang1news.com/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *