Ribut Agama Bukan Karakter Muhammadiyah

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Di dalam internal umat muslim, sebenarnya sering terjadi perdebatan furuiyyah dan khilafiyyah baik oleh pemuka agamanya maupun jamah pengikutnya. Hal ini dikarenakan, rasa pengakuan dan pembenaran dalam beragama menjadi seakan prinsip abadi yang tak bisa dibantahkan. Perdebatan umumnya dalam ranah manhaj, fatwa, tafsir dan istinbath hukum yang berbeda hasil ijtihad para mujtahid nya masing-masing. Perselisihan terus terjadi tanpa henti sebelum adanya perdebatan isu baru yang hadir dalam arena Perselisihan paham keagamaan. Pada dasarnya manusia memang suka dalam keributan, perdebatan dan kegaduhan sebagai bentuk upaya mencari eksistensi dan pembenaran tunggal di tengah perbedaan. Hal itu dikarenakan manusia lebih suka menyalahkan yang lain, sehingga lupa atas kesalahan dirinya sendiri yang tak mampu dikoreksi dan muhasabah diri. Itulah makanya sebagai manusia senantiasa mohon ampun hanya kepada Allah agar dibukakan mata bathin hatinya ke jalan yang benar.

Muhammadiyah sebagai organisasi islam yang masih eksis dan bertahan sampai hari ini tidak lepas dari situasi keributan agama di zamannya. Kiyai Ahmad Dahlan yang merupakan sosok ulama pun selalu dihina, ditahdzir, ditakfir dan dicela oleh lingkungan circle nya sendiri. Padahal kiyai Ahmad Dahlan adalah anak ulama besar kalangan elit, bangsawan, saudagar dan keluarga terhormat lagi terpandang pun dapat perlakuan buruk. Akan tepat Kiyai Ahmad Dahlan tetap tidak masuk dalam ranah keributan agama, sebab hal yang lebih penting adalah mencerahkan umat dan memberikan pembelajaran yang lebih baik. Walaupun sebagian orang Muhammadiyah mengatakan bahwa itu kan sejarah dulu dan bukan sejarah sekarang, sampai-sampai mereka lupa bahwa ada nilai sejarah, nilai hikmah dan nilai Ibrah di dalamnya jika saja menggunakan akal pikiran nya lebih jernih dan berkemajuan. Tapi yang namanya manusia, sentimen dan emosi lebih besar daripada kebesaran hati dan kesabaran jiwa jika mengalami keributan agama yang mengarah pada amarah kebencian di dalam hatinya.

Ribut agama bukan karakter Muhammadiyah dikarenakan arena perdebatan itu selalu menawarkan keresahan hati dan kebencian sikap, apalagi jika itu dilakukan oleh para jamaah pengikutnya sedangkan tokoh agamanya tidak sejauh itu. Muhammadiyah level dan maqamnya adalah selalu berdakwah yang mencerahkan sekalipun melawan TBC, tradisi jahiliyah, kebodohan, kemiskinan dan lainnya sebagainya. Akan tetapi dakwah nya yang dicontohkan oleh Kiyai Ahmad Dahlan tidak bersifat vokal-brutal tidak pula dengan cara yang konfrontatif-destuktif melainkan dengan cara produktif, progresif dan proaktif dalam mencerahkan umat. Model dakwah Muhammadiyah tidak banyak masuk dalam ranah keributan agama, perdebatan agama, dan perselisihan agama. Sebab yang lebih penting adalah untuk memberdayakan umat dan mencerahkan semesta dengan dakwah yang lebih berkemajuan di tengah corak model islam tradisional, konservatif bahkan sangat jumud berkemunduran yang seharusnya masuk dalam situasi pembaharuan di tengah modernisasi kala itu. Itulah penting nya kecerdasan akal, kebersihan hati dan kebesaran jiwa dalam menghadapi perbedaan yang hakikatnya adalah setengah rahmat Allah yang ditunjukkan bagi mereka yang berpikir secara robbani.

BACA JUGA :  Ediyanto : Hari Kemerdekaan ke-77 RI! Usaha Pahlawan Tidak Akan Pernah Sia-sia

Ribut agama itu bagaikan karakter anak-anak yang rebutan mainan dan makanan hanya untuk merasa menang dengan tujuan mendapatkan keinginannya. Anak-anak ribut hanya sebatas mencari kemenangan dan kehebatan ketika ribut dan berebut apapun itu, sehingga mereka mudah marah, bertengkar, menangis dan seterusnya. Bedanya anak-anak setelah itu dengan mudahnya berteman dan akrab kembali walaupun nanti akan ada situasi ribut dan berantem setelah situasi senang dan bahagia bermain. Sedangkan orang dewasa jika sudah ribut atau berselisih itu lebih parah yang mengakibatkan kebencian, kemarahan dan kemurkaan. Sehingga ribut agama jika masih ada di Muhammadiyah dipastikan orang dewasa bermental baper, puber, keder dan geber sehingga sangat sensitif dan mudah terbakar. Berat memang bermuhammadiyah, sebab dipastikan tidak semua orang suka dan bahkan sesama orang Muhammadiyah pun bisa saling membenci dan tidak suka karena berbagai macan faktor penyebabnya. Kedewasaan bukan soal usia atau umur, melainkan soal sikap, cara berpikir, mental jiwa dan keseimbangan hidup termasuk di Muhammadiyah.

Sudah saatnya warga Muhammadiyah meninggalkan arena keributan, perdebatan dan perselisihan agama jika susah terlanjur terlalu dalam sekalipun dihina, dicaci, dimaki dan lainnya agar tidak sama level maqamnya dengan para penghina. Mungkin hati akan sakit, mental marah dan jiwa terbakar tapi itu lah pintu masuk setan untuk terus membuat keributan. Ribut agama itu bukan karakter Muhammadiyah, bukan ciri khas dan bukan wajah Muhammadiyah apalagi maqamnya Muhammadiyah. Masih banyak pekerjaan umat lain untuk peradaban islam di Muhammadiyah yang belum diselesaikan para pendahulu dan generasi sekarang. Ssbagai warga Muhammadiyah juga tak perlu sampai tuding menuding sesama warga Muhammadiyah atau kader Muhammadiyah jika memang benar merasa santri Muhammadiyah dan santrinya Kiyai Ahmad Dahlan. Perbanyak membaca, diskusi, ngaji, menulis, tafakkur, dan tadarus agama jauh lebih penting dan utama afdhol daripada ribut agama cuma dapat amarah kebencian. Biarkan mereka yang diluaran sana sibuk dengan kebencian nya dan jangan sama serta ikutan dengan mereka, karena itu bukan karakter Muhammadiyah. Semoga tetap sabar, ikhlas, istiqomah dan kuat dalam menjalani kehidupan bersama Muhammadiyah tentunya.

BACA JUGA :  Generasi Sandwich Muhammadiyah

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Kader Kokam Diklatsar Sleman-DIY)