WARTAMU.ID, Humaniora – Tidak semua yang bekerja di AUM itu memiliki kesadaran tinggi untuk membesarkan Muhammadiyah termasuk membesarkan AUM itu sendiri, meskipun berada di dalamnya. Baik itu yang merupakan kader Muhammadiyah apalagi non kader Muhammadiyah, sebab mengurusi AUM dengan kategori tertinggal tidaklah mudah. Bahkan AUM yang mandiri saja jika tidak ada kesejahteraan yang didapatkan, juga terkadang mengalami kendala kemajuan dikarenakan adanya kader Muhammadiyah yang stagnan dan pekerja non Muhammadiyah di AUM yang acuh tak acuh. Sedangkan kontestasi dalam persaingan membesarkan suatu usaha dengan organisasi lainnya atau yayasan lainnya semakin luas dan banyak, apalagi zamannya semua orang bisa berhak punya apa saja asalkan punya uang, punya koneksi dan punya backing pejabat. Sehingga membentuk usaha yang akhirnya lebih mengarah kepada kepentingan pribadi sebagai lahan aset jika kelak tak lagi berjaya dalam karirnya.
Fenomena AUM yang terseok-seok, hidup segan mati tak mau, pembangunan yang terhenti, rencana yang gagal total ingin membangun, kesejahteraan yang masih jauh mustahil, dan berbagai kendala lainnya yang begitu menyakitkan lagi menyulitkan. AUM tak hanya sekolah dan kampus saja, sebab begitu luas selama tujuan nya untuk gerakan dakwah dalam kemaslahatan. Kenapa masih ada AUM yang belum juga meningkat dan naik kelas ?, dari sekian banyak diskusi ternyata akibat dari pekerja AUM yang tak peduli terhadap AUM itu sendiri karena tidak punya misi yang jelas dalam bermuhammadiyah, yang da hanyalah misi pribadi dan kepentingan sendiri saja baik itu yang kader apalagi non kader. Hal tersebut secara garis besar dikarenakan kesejahteraan yang tak didapatkan, sehingga harus mencari jalur lain untuk menambah jalan kebutuhan ditambah pula kehidupan yang semakin sulit dengan biaya yang serba mahal lagi menjerit. AUM terbengkalai dalam perawatan atau pembangunan, bahkan selalu kalah tertinggal dengan yang lain diluaran sana yang serba cepat. Terlebih pula citra Muhammadiyah yang kaya raya dan organisasi islam besar di level pimpinan pusat, membuat sebagian orang non Muhammadiyah menjadi skeptis dan tak lagi ingin membantu banyak Muhammadiyah yang ada di daerah, cabang dan ranting yang selaku dikaitkan dengan kebesaran AUM yang berada di pimpinan pusat. Sungguh ironis tapi begitulah kenyataannya yang ada terjadi dalam bermuhammadiyah ini.
Menolong AUM Dhuafa seharusnya menjadi tugas dan perhatian bersama, agar setiap AUM itu bisa sama sukses berjaya tanpa harus saling menafikan atau membiarkan hanya karena beda jalur kepengurusan. Banyak strategi dan cara untuk dapat menolong AUM dhuafa agar pelan tapi pasti bisa menjadi besar seperti AUM lainnya yang mandiri, mapan atau besar. Gerakan infak 1.000 sehari, gerakan donasi wajib 10.000 tiap pekan atau bulan, gerakan bantuan kebutuhan barang layak manfaat disesuaikan dengan AUM, serta bantuan modal dalam menolong AUM Dhuafa. Dikatakan Dhuafa karena masih lemah, masih susah, masih menderita, masih miskin, masih lambat dan masih belum ada progres yang cepat agar semakin membaik. Selain itu cara yang cukup konkret menolong AUM Dhuafa dengan adanya wakaf produktif kecil-kecilan, mencari donatur tetap yang berkelebihan sedekah, bantuan dana hibah, sponsor yang inklusif, dana CSR yang berkeadilan, subsidi silang, sampai pada dengan bantuan amal lainnya yang tujuannya adalah kebaikan untuk akhirat.
Upaya menolong AUM Dhufa ini memang harus terus dilakukan, karena kalau bukan dimulai dari warga Muhammadiyah sendiri lantas siapa lagi. Jika AUM nantinya besar juga harus dipastikan adanya kebermanfaatan dan kesejahteraan yang tidak terlupakan. Karena selama ini kerap terjadi jika AUM besar justru tidak adanya kesejahteraan nya yang dirasakan secara merata kepada semua pihak yang terlibat membesarkan AUM dari nol merintis atau dari mulai memperbaiki setiap kendalanya. Jangan sampai AUM dhuafa ini berjalan sendirian dan ditinggalkan begitu saja, jika terbengkalai atau diambil alih pihak lain akan menjadi kerugian bagi persyarikatan nantinya. Memperhatikan dan memperat kekeluargaan antar warga dan kader Muhammadiyah terhadap AUM merupakan hal yang wajib diupayakan.
Mari terus menolong AUM Dhuafa ini menjadi AUM Ghaniy atau AUM pemberi dengan meningkatkan kualitas dan kelasnya atas kepedulian. Satu hal yang pasti untuk terus mendalami apa saja yang membuat AUM semakin dhuafa, apakah karena adanya pekerja AUM yang parasit, apakah karena adanya kader yang hipokrit, ataukah karena lingkungan yang diskriminatif serta apalah karena pimpinan yang serba sulit tapi sok hebat pikirin sempit dan lainnya. Karena amal usaha Muhammadiyah yang masih dhuafa menandakan pada kekompakan masih lemah dan sikap ego merasa besar dari organisasi telah mendarah daging, sedangkan AUM harus terus dibangun dengan berkelanjutan. Semoga dengan menolong AUM Dhuafa akan diberikan balasan kebaikan dengan bertambahnya rezeki, usaha, urusan dan ketenangan hidup yang didapatkan. Jangan lagi berpikir sempit tapi tetaplah berbesar hati dalam membesarkan AUM yang masih tertinggal jauh menjadi lebih baik lagi ke depannya.
Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Intelektual Muhammadiyah Islam Berkemajuan)












