DAERAH  

Jum’at Berkah, Majelis Taklim Al-Manduriyah Kunjungi Masjid Tertua Di Indonesia

Majelis Taklim Al-Manduriyah saat melaksanakan kegiatan rutin setiap jum'at, membagikan makanan gratis ke beberapa masjid yang ada di Kupang

WARTAMU.ID, Kupang (NTT) – Alhamdulillah Jum’at berkah kali ini benar-benar berkah. Hal ini disampaikan Hartati, Ketua Majelis Taklim Al-Manduriyah saat melaksanakan kegiatan rutin setiap jum’at, membagikan makanan gratis ke beberapa masjid yang ada di Kupang, Nusa Tengara Timur. Jum’at (11/3/2022).

“Hari ini kita ke rumah Allah di Airmata, Masjid Baitul Qadim merupakan salah satu dari 100 masjid tertua di seluruh Indonesia, usianya 112 tahun, Alhamdulillah berjalan demgan lancar,”tuturnya

“200 nasi bungkus dan 100 cup Es Teh Indonesia habis. Semoga menjadi berkah buat semuanya yang menyumbang dan yang menerima,”imbuhnya

Majelis Taklim Al-Manduriyah saat melaksanakan kegiatan rutin setiap juma’at, membagikan makanan gratis ke beberapa masjid yang ada di Kupang, Nusa Tengara Timur

Hartati juga mengucapan terima kasih tak terhingga kepada ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Taklim Al-Manduriyah.

Dia berharap kerukunan Keluarga Madura Kota Kupang tetap terjaga, serta Ikatan Keluarga Madura ( Ikamra) yang telah memberikan donasinya untuk Jum’at Asyik kali ini dicatat Allah sebagai amal kebajikan.

“Semoga ini menjadi amal pemberat timbangan serta untuk meringankan langkah kaki kita menuju SurgaNya Allah. Aamiin. Salam Sittung Dere,”harapnya

Kelurahan Airmata merupakan wilayah pemukimam Muslim pertama di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Airmata ini pula berdiri masjid tertua dan pertama di Kupang, yaitu Masjid Agung Airmata atau resminya bernama Masjid Baitul Qadim.

Masjid Airmata menjadi simbol pemersatu umat beragama di Kupang dan sekitarnya, karena sejak pertama kali dibangun bergotong royong bersama masyarakat Nasrani setempat. Selain itu Masjid Airmata juga merupakan potret dasar masuknya Islam di Kupang, ibukota NTT. Masjid ini merupakan pemersatu warga Muslim dan nonmuslim. Tak mengherankan jika masjid tersebut dijadikan sebagai objek wisata rohani di Kota Kupang.

Masjid yang sudah berusia sekitar 200an tahun itu dibangun di atas tanah hibah Syahban bin Sanga Kala pada tahun 1806 bersama dengan Kiai Arsyad (tokoh pergerakan Banten yang dibuang Belanda ke Kupang) dibantu umat Kristiani yang ada di sekitar kampung Airmata Kupang.

Syahban merupakan warga Muslim pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Timor dalam pelayarannya dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Syahban berasal dari Mananga, sebuah kampung di Pulau Solor bagian barat.

Iwan Abdul Gani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *