WARTAMU.ID, Suara Pembaca – Tradisi halal bihalal menjadi kegiatan tahunan yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan saling memaafkan antar sesame, terutama pasca ramadhan memasuki suasana hari Raya Idul Fitri. Meskipun istilah tersebut berasal dari bahasa Arab. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti Halal Bihalal adalah hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Namun tradisi ini disebut lahir dari masyarakat Indonesia sendiri.
Moment tersebut juga dilakukan oleh para guru dengan ketua yayasan Dr. Soebyan Bunda Shita Darmasari, Kepala Sekolah SD Miss. Eka Indriani, Kepala Sekolah SMP miss Rizky Hesriana serta Peserta didik di Plaza SMP Lazuardi Haura Global Compassionate yang beralamatkan di Jl. Imba Kusuma Sumur putri teluk Betung Selatan Bandar Lampung.
Dalam acara tersebut Ketua Yayasan Dr Soebyan, menyampaikan refleksinya tentang hakekat Manusia sebagai makhluk terbaik di antara semua makhluk Allah (ahsan taqwim). Tapi itu baru secara potensial, yakni dlm hal isti’dad (kesiapan)-nya. Itulah fitrah manusia. Yang manusia bisa mengikutinya, atau membangkang kepadanya. Artinya manusia baru benar benar menjadi yang terbaik jika potensi-fitrinya – sebagai citra Allah (imago Dei/makhluk yang dicipta ‘alaa shuuratihi, atas model Fitrah Allah- QS 30:30) itu teraktualisasikan, kecuali para Nabi dan awliya’, kelihatannya lebih banyak manusia belum bisa merealisasikan potensi kesempurnaannya dlm kehidupan dunia ini meski kehidupan dunia ini sesungguhnya sudah dijadikan Allah sebagai kawah ujian untuk menampilkan ihsan, sebagai puncak ahsan amal (amal sempurna) manusia. Maka masih ada Barzakh, kawah kedua aktualisasi potensi kesempurnaan manusia. Hanya, beda dengan kawah pertama yang di dalamnya manusia diberi kesempatan secara suka rela (ikhtiyari) mengaktualisasikan potensi kesempurnaannya itu, di Barzakh dan di akhirat Allah memaksakan proses aktualisasi itu (idhtirariy).
Melewati kesulitan-kesulitan (ibtila’/ujian) hidup (didunia) dengan hati suka rela, betapa pun juga, pasti lebih nyaman dibanding melewati kesulitan-kesulitan/ujian-ujian (baca: siksa) yang dipaksakan. Ya, itulah persisnya yang menjadikan kesulitan-kesulitan di Barzakh dan akhirat itu menjadi menyiksa. Mudah2an Allah memberi kita kekuatan untuk secara suka rela mengasah diri, menjalani kehidupan di kawah candra dimuka kehidupan dunia ini dengan suka rela, mengampuni kekurangan-kekurangan kita sehingga kita dibebaskan dari siksa kesulitan-kesulitan/ujian-ujian yang dipaksakan kepada kita, oleh Allah Swt – betapa pun itu semua adalah wujud belas-kasih-Nya demi menyempurnakan diri kita. Demi mengaktualisasikan aspek keilahian kita, dan mematangkan kita demi siap masuk surga-Nya, bertemu dengan Kekasih kita. tutur beliau dengan mengutip tulisan Pak Haidar.
Selain itumakna yang dapat dipetik dari Kegiatan silaturahmi dan saling memaafkan. Sebagaimana dalam suatu riwayat, menyebutkan bahwa menyambung silaturahmi akan memperluas rezeki dan memperpanjang umur. “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menjalin silaturahmi.” (HR Bukhari).
Puncak acara suasana kebersamaan dan kebahagiaan halal bi halal di diakhiri dengan menyantap Putlak/snack sebagai bentuk kebersamaan, keakraban dan kekeluargaan antara yayasan, para guru dan peserta didik setelah menikmati libur panjang hari raya idu fitri dan beraktifitas kembali disekolah yang dirundukan.
Smga kita dipertemukan kembali dengan suasana ramadhan, idul fitri dan halal bi halal.
Oleh : Herimirhan, S. Ag
Guru PAI SMP Lazuardi Haura GCS Bandar Lampung
Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)












