DAERAH  

LLHPB Aisyiyah Kupang Gerakan Mahasiswa Melalui Bank Sampah

Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Nusa Tenggara Timur (NTT)

WARTAMU.ID, Kupang (NTT) – Di sela kunjungannya dalam rangka mendukung program Kementerian Lingkungan Hidup, ketua divisi lingkungan LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiah, Hening Parlan menyempatkan diri untuk bertemu Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang.

Hal itu disampaikan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah NTT, Helda melalui sambungan telepon. Kamis (17/3/2022).

“Mendapat kunjungan Mbak Hening dari LLHPB PP ‘Aisyiyah. Kami manfaatkan kunjungan beliau dengan mengadakan pelatihan pengelolaan sampah,”tutur Helda.

Pelatihan yang digelar di Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Kupang itu, Hening Parlan menyampaikan materi tentang pengelolaan sampah yang efektif dan efisien dengan memberikan contoh daerah yang telah berhasil memberikan pendapatan tambahan dari pengelolaan sampah.

Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Nusa Tenggara Timur (NTT)

“Kami termotivasi untuk melakukan hal yang sama, terimakasih kami sampaikan kepada Mbak yang sudah meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu dan pengalaman tentang pengelolaan sampah,”ucapnya.

Kata Helda, dalam pelatihan itu, PWA NTT juga menghadirkan salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Kupang bertujuan agar pihak kampus dapat menggerakkan mahasiswanya untuk peduli terhadap isu lingkungan.

“Dari Universitas Muhammadiyah Kupang yang hadir adalah Pak Zul. Universitas Muammadiyah Kupang dapat menggerakkan mahasiswanya, mungkin melalui program bank sampah,”kata Helda.

Helda mengatakan, tempat pemrosesan akhir sampah untuk daerah Kupang terbatas. Hal tersebut menyebabkan pengelolaan sampah belum teratasi dengan baik. Oleh karena itu, perhatian terhadap sampah menjadi sesuatu yang urgen.

Lanjutnya, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kupang berdasarkan arahan Hening Parlan, akan menjalin kerja dama dengan instansi atau pihak terkait dalam hal pengelolaan sampah yang baik.

“Ada temannya mbak Hening di Kupang yang sudah berpengalaman dalam pengelolaan sampah, ada juga yang punya usaha pertanian organik. Kami diminta mbak Hening untuk menjalin kerja sama dengan beliau-beliau ini,”tuturnya

Helda juga mengatakan, sampah rumah tangga itu bisa diolah jadi pupuk dengan bekerja sama dengan pihak yang memiliki usaha pertanian organik, sedangkan sampah palstik bisa bekerja sama dengan pihak pengelola sampah.

“Istilahnya sedekah sampah. Dilakukan di sekitar Muhammadiyah dulu, karena Muhammadiyah Kupang memiliki amal usaha mulai dari SD sampai perguruan tinggi, tentu banyak sampah yang dihasilkan,”kata dia.

Diharapkan dengan program tersebut, Green Muhammadiyah dan Green ‘Aisyiyah NTT dapat terwujud terutama menjelang bulan Ramadhan dengan cara mengurangi penggunaan alat-alat berbahan palstik.
Iwan Abdul Gani.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *