Mengabdi Setulus Hati Bersama Muhammadiyah

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Tidak mudah untuk menjadi warga Muhammadiyah dan tidak pula susah menjadi bagain warga Muhammadiyah, jika mampu menjalani dengan tulus lagi ikhlas. Tidak semua warga Muhammadiyah itu sama, karena sejatinya semua berangkat dari latar belakang masing-masing, ada yang turun temurun, ada yang dari perkaderan, ada yang melalui amal usaha, ada yang dari jalur regenerasi, dan lain sebagainya. Umumnya warga Muhammadiyah yang paling aktif adalah yang menjadi pimpinan struktural baik di ranting, cabang, daerah, wilayah, pusat, ortom, pimpinan amal usaha, bekerja di amal usaha maupun yang terlibat setiap saat di Muhammadiyah atau hidup di lingkungan Muhammadiyah maupun amal usaha Muhammadiyah. Tetapi juga ada yang aktif di Muhammadiyah sekalipun profesi pekerjaan dan kesibukan nya tidak di dalam lingkungan amal usaha Muhammadiyah, entah bekerja sebagai pns, asn, pejabat, politisi, pengusaha, pedagang, pebisnis, motivator, staff, admin, dan berbagai jenis profesi lainnya. Semua dapat mengabdi dan berjuang untuk Muhammadiyah baik secara nyata dan praktis maupun secara digital sosial media atas keaktifan serta keberpihakan nya kepada Muhammadiyah.

Setiap warga dan kader Muhammadiyah itu memiliki ragam perbedaan dalam bermuhammadiyah, ada yang pro aktif, ada yang stabil aktif, ada yang sedikit aktif, ada yang pasif mendingan, ada pula yang pasti total, ada yang lari dan ada yang hilang ditelan bumi. Semua tergantung pada kesibukan dan aktivitas nya masing-masing, sebab jihad bekerja dan jihad mencari nafkah keluarga memang lebih utama. Hanya saja terkadang tak semua bisa dinilai sama, yang terpenting bisa memberikan kontribusi dan wujud nyata kepada Muhammadiyah walau sekecil apapun itu, karena kebaikan sekecil bini zarrah saja bisa lebih diterima Allah daripada sebesar istana tapi penuh dengan intrik kepalsuan. Pada intinya berjuang, beribadah, berdakwah dan bergerak bersama persyarikatan Muhammadiyah untuk dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya. Muhammadiyah hadir untuk memberikan solusi bagi umat dan bukan untuk kegaduhan apalagi tarik menarik dalam arogansi beragama.

Mengabdi setulus hati bersama Muhammadiyah merupakan jalan dakwah yang mulia dengan harapan mendapatkan ganjaran kebaikan dan pahala tentunya. Memilih bergerak bersama Muhammadiyah itu mudah-mudah sulit dan sulit-sulit mudah, hal itu disesuaikan dengan dinamika di tempat daerah nya masing-masing ketika bermuhammadiyah. Ada yang bermuhammadiyah di lingkungan dominan penuh warga Muhammadiyah, ada yang setengah warga Muhammadiyah, ada pula yang sepertiga warga Muhammadiyah dan ada yang masih minoritas kecil warga Muhammadiyah. Itu juga belum dilihat dari amal usahanya, masih dilihat dari segi keanggotaan maupun jamaahnya saja yang apalagi ortom belum terus bahkan cabang atau ranting yang belum berdiri ataupun yang sudah mati suri. Karena di Muhammadiyah tidak seperti mekanisme negara yang dengan nikmatnya alokasi anggaran atau subsidi, maka yang dibutuhkan adalah kemandirian, kecakapan dan kemampuan membangun serta memberdayakan potensi yang ada. Hal ini tentu harus ada upaya semangat terus Mengabdi di Muhammadiyah sampai wafat saja yang memisahkan nya seperti kisahnya Kiyai Ahmad Dahlan. Pengabdian yang tulus lagi ikhlas sekalipun hanya menjadi warga Muhammadiyah kelas menengah, kelas akar rumput dan kelas paling bawah pun tetap masih bisa Mengabdi bersama Muhammadiyah apalagi yang elit tokoh dan kelas atas warga Muhammadiyah yang jauh lebih luas Pengabdiannya. Semangat bermuhammadiyah tidak dilihat dari ukuran status sosial dan kekayaan harta saja, melainkan ketulusan dan keikhlasan dalam Pengabdian bersama Muhammadiyah.

Banyak cara untuk mengabdikan diri di Muhammadiyah, tidak hanya yang berada di AUM atau pimpinan struktural saja yang aktif dalam pengabdian. Semua yang merupakan warga Muhammadiyah memiliki NBM, memiliki garis ortom dan yang berada dalam keluarga besar Muhammadiyah bisa mengabdikan diri dengan caranya masing-masing atau pun aktif mengikuti setiap program kegiatan yang telah direncanakan oleh pimpinan struktural setempat. Aktif, berpartisipasi dan membantu sudah termasuk bagian dari pengabdian bersama Muhammadiyah baik itu sedikit atau banyak, besar atau kecil, luas atau sempit, banyak atau sedikit, dan seterusnya menjadi bagain saksi pengabdian. Menjadi khodimul ummah, khodimul islam dan khodimul Muhammadiyah dengan setulus hati, seikhlas hati dan sebaik hati. Terlepas masih ada kekurangan dan kelemahan, hal itu terus diperbaiki dan berusaha menjadi kader Muhammadiyah yang baik sebaik baiknya.

Mengabdi setulus hati bersama Muhammadiyah tanpa lagi menjadi perhitungan apalagi merasa paling besar lagi segalanya, anggap saja selalu memulai dari bawah untuk terus berjuang bersama Muhammadiyah. Keteguhan hati dan Keteguhan iman yang dimiliki harus terus dijaga ketika mengabdikan diri berada di Muhammadiyah. Sehingga menghindari dari keburukan, kelemahan dan kebusukan penyakit hati yang hanya selalu terpaut dalam materi duniawi. Sebab ketika mengabdi dengan setulus hati, maka rasanya dunia lebih terasa sejuk apalagi berada di persyarikatan Muhammadiyah ini. Tak kan pernah lelah berjuang bersama Muhammadiyah walau masih dipandang lemah sebelah mata, walau dianggap kecil lagi menderita dan walau dianggap lemah tak berdaya tetap cinta pada Muhammadiyah tanpa ada duanya dan tiada tara. Karena sekali Muhammadiyah tetaplah Muhammadiyah, karena pesan Kiyai Ahmad Dahlan itu jangan duakan Muhammadiyah dengan berbagai macam alasan apapun itu. Yang terpenting mengabdi setelus hati hanya untuk Muhammadiyah hari ini, kemarin dan selamanya.

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Intelektual Muhammadiyah Islam Berkemajuan)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *