DAERAH  

MPM Muhammadiyah Tuban, Selenggarakan Pelatihan Pertanian Organik

Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tuban

WARTAMU.ID, Tuban (Jawa Timur) – Perkembangan pertanian organik akhir-akhir ini semakin marak sebagai respon terhadap terjadinya penurunan kualitas sumberdaya alam sebagai akibat pemakaian berbagai input bahan kimia pada budidaya pertanian. Pertanian organik juga didorong meningkatnya kesadaran akan konsumsi makanan sehat bebas residu pestisida dan pupuk kimia.

Beberapa kelompok pertanian organik telah berkembang, namun masih banyak hal yang belum mendukung perkembangannya. Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang keberadaan dan harganya mudah dipermainkan masih sangat tinggi. Di lain fihak penyediaan pupuk dan pestisida organik memerlukan kerja lebih keras dan curahan waktu lebih banyak dari petani.

Untuk mendukung perkembangan pertanian organik, paling tidak mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia, maka Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tuban menyelenggarakan pelatihan pertanian organik.

Pelatihan dilaksanakan di MI Muhammadiyah 2 Cendoro, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Ahad (20/3/2022). Turut hadir dalam pembukaan pelatihan, Ketua PDM Tuban, Nurul Yakin, Ketua MPM PWM Jawa Timur, sebagai peserta pelatih adalah perwakilan dari tiap Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kabupaten Tunan.

Ketua MPK PWM Jawa Timur, Gunawan dalam sambutannya mengatakan, jama’ah Muhammadiyah adalah potensi yang harus dimanfaatkan dalam dunia pertanian organik.

Gunawan meminta jama’ah tani Muhammadiyah untuk menjadi pelopor dalam dunia pertanian organik, mengingat dunia pertanian saat ini mengalami pergeseran dari pertanian ramah lingkungan menjadi pertanian yang merusak lingkungan melalui menggunakan bahan-bahan kimia yang berlebihan.

Lebih lanjut dia mengatakan, kegiatan pertanian adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia sejak dahulu jala, sebelum manusia mengenal teknologi.

“Kalau kita belajar sejarah, di sana kita temukan manusia mempertahankan hidup melalui dunia pertanian, sebelum mengenal ilmu pengetahuan lain,”ungkapnya.

“Inilah yang kita jihadkan, karena kita sendiri relatif terlambat menyadari bahwa bidang pertanian ini multy player efeknya sangat luar biasa jika terjadi keterpurukan,”imbuhnya.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *