Wartamu.id, Lampung Timur — Rendahnya nilai rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Inggris jenjang SLTA secara nasional kembali menjadi sorotan. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan, rata-rata nilai TKA Bahasa Inggris SMA secara nasional hanya berada di angka 24,93 dari skala 0–100, jauh di bawah mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia dan bahkan Matematika, 24 Desember 2025.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Sunarsi, warga Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur sekaligus pendidik di TK PKK Kali Pasir, yang memiliki pengalaman panjang dalam penggunaan bahasa Inggris secara langsung. Kepada media ini, Sunarsi mengungkapkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris yang ia miliki bukan semata-mata hasil pembelajaran teori di sekolah.
“Dulu saya bekerja di Singapura sejak tahun 2003. Sehari-hari harus ngobrol pakai bahasa Inggris. Dari situ terbiasa dan akhirnya bisa,” ujar Sunarsi saat diwawancarai, Selasa (24/12).
Menurutnya, sebelum bekerja di luar negeri, ia juga sempat mengikuti pelatihan bahasa Inggris di sebuah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Jakarta. Namun, kebiasaan menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari menjadi faktor paling menentukan.
“Banyak ngobrol itu kuncinya. Kebiasaan yang bikin bisa, bukan cuma belajar tata bahasa,” katanya.
Sunarsi menilai, pembelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah Indonesia masih terlalu menekankan aspek teori dibandingkan praktik komunikasi. Padahal, bahasa merupakan alat interaksi yang harus dilatih secara aktif.
Pengalaman tersebut kini ia terapkan dalam kegiatan mendidik anak-anak di lingkungannya. Ia membiasakan siswa menyapa dan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian. Hasilnya, respons orang tua pun positif.
“Alhamdulillah, orang tua senang. Sekarang malah banyak yang minta saya buka les bahasa Inggris, bahkan digabung dengan matematika,” ungkapnya.
Fenomena ini sejalan dengan tantangan yang tercermin dalam hasil TKA nasional. Rendahnya capaian Bahasa Inggris menunjukkan perlunya evaluasi metode pembelajaran, khususnya dengan memperkuat pendekatan komunikatif dan kontekstual agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menggunakan bahasa Inggris secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.












