WARTAMU.ID, Yogyakarta (2/11) – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD) telah melaksanakan kegiatan terakhir dari Program Jamaah Tangguh Bencana dengan menggelar acara simulasi bencana di Masjid Baiturrahim, Potrobayan, Pundong, Bantul, pada malam tanggal 1 November. Simulasi ini berhasil menghadirkan sekitar 50 peserta dari jamaah masjid dan remaja masjid sekitar wilayah tersebut.
Kegiatan dimulai dengan sesi materi dan pembagian tugas yang telah disampaikan secara berkelanjutan sejak pertemuan sebelumnya oleh Budi Santoso, S.Psi., M.KM., Wakil Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah. Sesi materi ini sangat penting untuk mempersiapkan peserta dalam menghadapi situasi bencana. Setelahnya, para peserta melanjutkan dengan simulasi bencana di pelataran masjid.
Acara ditutup dengan materi penutup yang berkaitan dengan fikih kebencanaan, yang disampaikan oleh Dr. Dody Yurnizal S.Pd., M.Pd, Bidang Pendidikan dan Pelatihan MDMC. Dalam materi penutup tersebut, Dr. Dody Yurnizal menekankan pentingnya pendidikan dan persiapan terhadap bencana, terutama gempa bumi.
Budi Santoso dalam penyampaian materi awal mengungkapkan pentingnya simulasi bencana untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam evakuasi saat terjadi gempa bumi. Dia menjelaskan, “Lahirnya program ini sebenarnya kan karena lokasi ini (Potrobayan) berada di titik 0 pusat gempa bumi Yogyakarta pada tahun 2006. Makanya kenapa kemudian penting untuk dilakukan pemaparan materi yang tujuannya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan simulasi untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan dalam evakuasi.”
Ia juga menambahkan, “Harapan saya (MDMC) adalah agar masyarakat umum sadar akan bencana gempa bumi yang bisa datang kapan saja, dan secara khusus masyarakat Potrobayan, Bantul.”
Dr. Dody Yurnizal S.Pd., M.Pd., dalam penyampaian materinya menekankan peran penting masjid sebagai tempat pendidikan yang sadar akan kebencanaan. “Masjid harus seperti ruang pendidikan yang mengetahui terkait kebencanaan. Makanya hasil dari kegiatan ini perlu adanya pedoman atau buku panduan terkait kebencanaan. Kemudian juga kepentingannya adalah lingkungan masjid sebagai tempat simulasi supaya tahu prosedur ketika sedang di dalam rumah atau di tempat yang lain,” ucapnya.
Selain itu, Dr. Dody juga menggarisbawahi dua aspek penting dalam menghadapi bencana. Pertama, aspek teologis, yang menunjukkan perlunya melihat bencana sebagai wujud kasih sayang Allah, bukan sebagai azab. Kedua, aspek sosiologis, di mana fikih kebencanaan Muhammadiyah tidak hanya mencakup pengiriman relawan, tetapi juga perlu memperhatikan prinsip inklusifitas dan tata kelola kebencanaan.
Dody menutup pemaparannya dengan mengutip kalimat bijak dari Ibnu Sina, “Kepanikan adalah setengah dari penyakit. Sedangkan ketenangan adalah setengahnya dari obat.”
Melalui simulasi bencana ini, MDMC dan Fakultas Kedokteran UAD berharap masyarakat Potrobayan, Bantul, dan wilayah sekitarnya dapat lebih siap dan tangguh dalam menghadapi potensi bencana, terutama gempa bumi.










