OPINI  

Di Hadapan Kekuasaan, Rakyat Kecil Sering Dibiarkan Sendiri

Foto Penulis

Di negeri ini, berbicara tentang rakyat adalah hal yang paling mudah dilakukan. Hampir semua partai politik mengusung jargon kerakyatan. Hampir semua pejabat mengaku lahir dari suara rakyat. Namun ketika rakyat kecil benar-benar berhadapan dengan kekuatan besar, di situlah publik mulai bisa membedakan: siapa yang hanya pandai berpidato, dan siapa yang benar-benar berani berdiri di depan membela masyarakat.

Polemik pembangunan Batalyon di Kabupaten Sumenep menjadi gambaran nyata. Di satu sisi, pemerintah membawa program strategis negara yang dianggap penting untuk kepentingan pertahanan. Namun di sisi lain, ada masyarakat yang mengaku memiliki hak sah atas tanah tersebut dengan bukti Sertifikat Hak Milik (SHM), sementara lahan yang sama disebut masuk dalam kawasan milik Perhutani.

Di tengah situasi seperti ini, masyarakat Parsanga sebenarnya tidak sedang melawan negara. Mereka hanya ingin haknya didengar, dihormati, dan diselesaikan secara adil. Sebab bagi rakyat kecil, tanah bukan sekadar angka di atas sertifikat. Tanah adalah sumber kehidupan, tempat keluarga bertahan hidup, sekaligus warisan masa depan anak cucu mereka.

Sayangnya, ketika persoalan menyangkut rakyat kecil berhadapan dengan kekuatan besar, tidak semua orang berani bersikap. Banyak yang memilih diam. Banyak yang lebih nyaman menjaga hubungan dengan kekuasaan daripada mengambil risiko berdiri di samping masyarakat yang sedang mencari keadilan.

Namun publik juga menyaksikan, masih ada pihak yang memilih turun langsung mendengar suara warga. Kader-kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan seperti Maryono bersama Ketua DPRD Sumenep H. Zainal Arifin hadir menerima audiensi masyarakat dan membuka ruang dialog agar persoalan ini tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Mungkin bagi sebagian orang hal itu terlihat biasa. Namun dalam situasi politik hari ini, keberanian untuk duduk bersama rakyat, mendengar langsung keluhan mereka, dan tidak menjaga jarak dari persoalan masyarakat justru menjadi sesuatu yang mulai langka.

Rakyat tentu mampu menilai sendiri. Siapa yang benar-benar hadir saat masyarakat membutuhkan pendampingan, dan siapa yang hanya datang ketika kamera menyala atau musim pemilu tiba.

BACA JUGA :  Asosiasi Ziarah Walisongo Bentukan 75 Ponpes NU Lampung Manfaatkan KUR untuk Wujudkan Kemandirian Ekonomi

Karena sejatinya, politik bukan hanya soal menjaga kedekatan dengan kekuasaan. Politik seharusnya tetap memiliki keberanian moral untuk memastikan rakyat kecil tidak merasa sendirian ketika menghadapi persoalan besar.Dan dari polemik inilah masyarakat mulai memahami satu hal penting: tidak semua berani berdiri di depan ketika yang diperjuangkan adalah hak rakyat kecil.

Penulis: Holib Rahman ( Jurnalis Senior )