RAGAM  

GURU : Digugu dan Ditiru

Hasbullah (Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu)

WARTAMU.ID, Suara Pembaca – Berangkat dari sebuah falsafah Jawa yang cukup terkenal dan sering di lontarkan dan pendidikan tentang seroang guru “bahwa guru adalah digugu dan tiru”. Dalam hal ini, digugu mengandung arti bahwa keilmuan yang disampaikan itu dapat dipertanggung jawabkan baik itu secara  kualitas dan kuantitas. Digugu karena juga memiliki kualifikasi sebagai seorang guru. Sedangkan dituru sudah pasti mencakup prilaku guru, dari keseharian seorang guru baik selama di sekolah maupun luar sekolah. Artinya, keteladan seorang guru menjadi instrumen penting dalam pendidikan, sebab ia yang akan terserap dalam proses pembelajaran bahkan kehidupan sehari-sehari seorang peserta didik.

Guru merupakan instrumen yang tak dapat dipisahkan dalam pembentukan karakter peserta didik. Sehingga kualitas seorang guru tentunya akan berpengaruh sangat signifikan dalam pengembangan kualitas dari potensi peserta didik itu sendiri. Sehingga kapasitas seorang guru sebagai pengajar, tentunya harus mendapat diperhatian oleh pemerintah dan pemaku kebijakan pendidikan agar semua proses pembelajaran tersampaikan dengan baik dan benar. Kecakapan seorang pendidikan harus ditingkatkan terus menurus, karena ia adalah orang yang menjadi instrument pertama dari pendidikan yang langsung bersentuhan dengan peserta didik. Kecapakan itu bukan hanya memahami bahan kurikulum dan seperangkatnya,  kecapakan yang harus dilatih juga kecakapan mental dan spiritual.

Sifat dan Karakter Guru

 Oleh karenanya, guru bukan saja menjalankan ritual mengajar saja, mendidik, membina dan melatih, tetapi seorang guru menjelma menjadi seorang pendidik yang multi talen, multi fungsi dan juga multi tanggung jawab. Sifat kerendahan hati seorang guru tentunya akan diuji selalu, bukan saja diuji oleh karakter dari seluruh siswa tapi dia akan di uji juga dengan sarana prasana, kurikulum dan tagihan yang diminta dari kelengkapan belajar mengajar. Dan ini bisa dilihat hari ini, sifat ini selalu melakat pada guru serta ini menjadi ceritah indah bagi seorang murid yang sudah lepas dari sekolah.

Karakter  keramahan diri. Ramah bukan saja terhadap orang lain melain juga ramah terhadap diri sendiri, yang sudah tentu keramahan ini juga harus dikedepankan oleh seorang giru. Dari dua hal ini guru akan menjadi sosok yang baik, sosok yang dirindukan oleh setiap siswanya  sehingga dari sini guru bukan saja menjadi seorang pendidik ansih tetapi juga sebagai manusia seutuhnya. Seorang siswa pasti akan merindukan guru yang memiliki kerapihan dalam berbaikan, rapih dalam turur kata dan rapih dalam melayani siswanya. Keramah diri akan menjadi indetitas dan sejarah tersendiri baik itu bagi murid teman sejawat dan lingkungan sekolah. Guru tentunya harus memilik perangai yang ketidak hadirannya dirundukan dan hadirnya akan memberikan kesejukan.

 Luasnya Peran Guru

Disisi lain, tentunya untuk menjalankan peran strategi sebagai seorang pendidik tentunya seorang guru harus memiliki kemampuan dan kecakapan dalam mengajar, mengelola kelas, menguasai materi yang akan disajikan, menggunakan metode, mampu membangun rasa ingin tahu siswa dan juga mampu melaksakan evaluasi dengan baik dan benar. Selain itu, seorang guru juga harus memiliki komitmen serta memiliki loyalitas tinggi sebagai seorang pendidik. Guru juga harus memiliki pemahaman yang luas akan landasan kependidikan yang sedang dijalankan serta ada kesenangan dalam melaksakan interaksi belajar mengajar.

Sebagaimana amat undang-undang  guru dan dosen No. 14 Tahun 2005. Dalam UU tersebut menyampaikam  guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sehingga  sudah dapat dipastikan, seorang guru harus memiliki kemampuan berlebih dari yang dimiliki sesuai dengan keilmuan sebab guru tidak hanya menilai sisi kognitif siswa, namun juga harus mampu menilai afektif dan psikomotorik..

Maka harapannya guru tidak hanya cukup menguasai bidang keilmuan  satu saja, melainkan guru juga harus mendapatkan pelatihan dampingan sampai guru mampu menempatkan posisinya  sebagai pendidikan yang sebagaimana diamanat undang-undang tersebut. Dilain sisi UU guru dan dosen ini juga mengamanatkan agar meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, maka berbicara pendidikan bermutu itu harus berawal dari guru yang bermutu juga. Disinilah peran pemerintah melalui kebijakan dan kerjanya harus mampu menjadikan guru yang memiliki kemampuan lebih. Sehingga tuntutan pendidikan secara nasional akan segera tercapai.

Oleh karenanya, guru menjadi sosok yang digugu dan ditiru tidak bisa begitu saja lahir. Melainkan guru harus berproses dan  juga didukung dengan perangkat kehidupan dalam kesehariannya sebab guru tidak hidup sendiri, dia memiliki keluarga dan kehidupan di luar sekolah. Guru bukan saja memberikan pengetahuan melainkan dia adalah manusia yang menanamkan tentang nilai kehidupan yang beradab dan sejahtera. Adab yang melahirkan kesopanan dan kebaikan tingkah laku,  sedangkan sejahtera yang akan menghadirkan keamanan dan kenyamanan di dalam kehidupan.

Akhirnya saya ucapakan selamat hari guru untuk para guru seluruh Indonesia, jasamu tak akan lekang dilintasi zaman sebab engkau adalah seorang pahlawan yang harus diberi pengharga bintang jasa kehidupan. Sebab guru adalah sosok manusia yang telah memberikan pencerahan kehidupan manusia serta kehidupan semesta. Salam hormat dari muridmu, sampai waktu yang tidak ditentukan.

Oleh : Hasbullah
Dosen UMPRI/ Founder Tadarus Kehidupan

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *