Kiyai Ahmad Dahlan Sang Pencerah Umat

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Menjadi pelita dan pencerah umat itu tidaklah mudah, apalagi jika masih dalam lingkungan yang sangat jumud lagi berkemunduran beragama. Walaupun kini zaman mausk di era modernisasi, akan tetapi tetap saja masih banyak yang terbelakang dan tidak mampu melangkah lebih jauh ke depan. Jika Rasulullah saja di tengah masa jahiliyah beragama, walaupun kala itu sudah termasuk banyak yang hebat lagi maju dalam urusan politik, perdagangan dan pembangunan pun masih jumud dalam pemahaman keagamaan dikarenakan masih menyembah patung sebagai Tuhan nya. Begitu pun era awal kelahiran Muhammadiyah diawal masih juga ada jahiliyah beragama, meskipun banyak para ulama-ulama lain terdahulu. Bahkan sampai saat ini pun masih ada nuansa jahiliyah modern atau jahiliyah kontemporer, yang padahal secara pendidikan dan wawasan pengetahuan sudah lebih maju pun tetap saja masih dalam kejumudan beragama. Pada intinya adalah jahiliyah itu bukan karena kebodohan secara Intelektual, pemikiran, pemahaman dan pola pikir saja melainkan jahiliyah pada cara beragama khsusnya memahami agama islam itu sendiri walaupun dia muslim atau kaum muslimin yang berpendidikan tinggi sekali pun. Bahkan menjelang kiamat nanti, justru jahiliyah merajalela yang dapat dipastikan zaman itu pasti jauh lebih modern dan canggih lagi nantinya.

Muhammadiyah pun tak lepas dari kondisi zaman yang sangat memprihatinkan melihat kondisi umat yang masih dalam kejahiliyahan, kemiskinan, kejumudan, keterbelakangan, kesenjangan, kebodohan dan juga ketertinggalan. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh lain yang juga membuat iklim dan siklus kehidupan umat ini agar tidak dibuat maju serta malah dibuat semakin bahlul akibat termakan doktrin, fanatisme buta, oportunis akut, sampai pada ketergantungan menjilat pasa sosok yang tidak memberikan kemajuan dan pencerahan umat manusia. Berbeda halnya dengan sosok Kiyai Ahmad Dahlan yang dulunya berada di lingkungan yang secara keagamaan justru tidak menjalankan esensi, subtansi dan ontologi agama karena banyaknya yang terjebak suka rela pada sesuatu yang mitos, mistis dan musyrik kedok agama. Tugas dakwah yang cukup berat bagi Kiyai Ahmad Dahlan untuk dapat mencerdaskan dan mencerahkan umat muslim yang kala itu banyak terkena penyakit taqlid buta, fanatik buta dan doktrin buta yang membuat keadaan beragama semakin jumud terbelakang. Padahal intisari alasan Islam itu mengajak pada kemajuan berpikir, ketaatan beragama, kecerdasan ilmu, kehebatan pemahaman dan juga kemampuan bekerja. Apalagi Kiyai Ahmad Dahlan melakukannya di lingkungan tempat tinggalnya kampung kauman yang dikenal sebagai kampung nya kaum beriman pada pemerintahan raja islam saja masih banyak yang terjebak dalam kejahiliyahan beragama. Langkah berat bagi Kiyai Ahmad Dahlan untuk dapat menjalankan dakwah islam melalui Muhammadiyah yang didirikan itu hingga sampai besar hari ini dan akan terus melahirkan Muhammadiyah sampai ke tingkat cabang dan ranting, walaupun banyak yang menganggap ormas islam akan meredup di level akar rumput terbawah.

Kiyai Ahmad Dahlan Sang Pencerah Umat yang tak kenal lelah berjuang untuk islam dan Muhammadiyah agar membuat kehidupan manusia lebih tercerahkan. Karakter Kiyai Ahmad Dahlan itu ketika berdakwah sangat elegan, hikmah, ihsan dan juga memiliki adab yang tinggi walaupun tujuan dakwah secara tegas melawan kejumudan TBC yakni takhayyul, bid’ah, churafat tanpa harus dengan cara menyalahkan yang lain dengan tahdzir ataupun takfir. Yang ada justru Kiyai Ahmad Dahlan sendiri pula yang menjadi korban fitnah, korban takfiri, korban hinaan dna korban intimidasi dari pihak-pihak yang membenci karena tidak suka dengan Muhammadiyah dan cara dakwahnya Kiyai Ahmad Dahlan ketika itu. Bisa dipahami bagaiamana beratnya kondisi psikologis Kiyai Ahmad Dahlan kala itu jika dirasakan oleh warga Muhammadiyah saat ini yang terkadang sesama kader Muhammadiyah malah bertolak belakang dan saling berselisih berlawanan akibat kepentingan pimpinan struktural maupun kepentingan amal usaha. Sebagai pencerah umat, apa yang dilakukan oleh Kiyai Ahmad Dahlan tidak serta merta saat itu langsung diterima dan diamalkan baik santri nya apalagi umat dan masyarakat umum lainnya. Seiring berjalan nya waktu dan proses pencerahan agama yang panjang lah yang akhirnya membuktikan bahwa beragama islam dengan Muhammadiyah itu akan membawa kemajuan pada umat islam. Kiyai Ahmad Dahlan Sang pencerah umat dan Sang suluh peradaban ini pun sulit untuk ditemukan kembali di Muhammadiyah itu sendiri sampai saat ini, tapi yakni dan percaya kelak akan lahir dan munculah generasi Muhammadiyah yang mirip persis dengan generasi awal Muhammadiyah salaf di kemudian hari yang akan membangkitkan peradaban Muhammadiyah dalam titik kejayaannya. Hal ini tak lepas dari kaderisasi ulama Muhammadiyah, sebab jika ingin melihat sosok Dahlan Muda di kemudian hari itu berlatar belakang ulama yang secara keilmuan tinggi, secara kepribadian santun, secara nasab elit ningrat dan secara sanad ilmu agama yang tersambung pada garis Rasulullah. Sang pencerah umat Muhammadiyah generasi baru ulama yang hadir kelak akan datang seperti sosok Kiyai Ahmad Dahlan.

BACA JUGA :  Menjadi Elit Muhammadiyah

Sebagai santrinya Kiyai Ahmad Dahlan era kontemporer, tentu harus membawa misi pencerahan umat islam untuk menyambut kejayaan islam yang masih tertanggal sampai saat ini. Bukan berarti islam tidak maju, akan tetapi kaum muslimin itu masih kalah jauh minoritas secara kemajuan beragama dan Saintifik. Upaya mencerahkan semesta dan memajukan bangsa serta mencerahkan umat merupakan tugas dakwah yang terus bergerak berkelanjutan tiada henti tanpa titik. Sebab sebagai penerus generasi Kiyai Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah harus mampu berusaha melampaui generasi awal Muhammadiyah yang telah memiliki banyak keberhasilan di era awal yang itu harus tercermin pada generasi baru Muhammadiyah hari ini dan selanjutnya serta seterusnya. Santri Kiyai Ahmad Dahlan itu tidak bermental lemah, tidak baperan, tidak sensitif, tidak reaksional, tidak emosional, tidak tempramental, tidak putus asa, tidak arogan, dan tidak egois beragama. Mampu menempatkan diri sebaik-baiknya di dalam lingkungan kejumudan tanpa harus jadi hakim yang vonis atau jadi polisi yang mengakao serta sikap berlebihan lainnya.

Jadilah seperti sosok Kiyai Ahmad Dahlan Sang Pencerah Umat walaupun dunia semakin jahiliyah dan semakin penuh fitnah merajalela. Menjadi pencerah dan pelita umat islam serta umat manusia yang tak kenal lelah untuk terus berdakwah yang memajukan umat. Menyambut kejayaan dan peradaban islam kembali bangkit di kemudian hari untuk mengisi setiap tempat yang ada membawa risalah islam berkemajuan. Tak lelah meneladani Kiyai Ahmad Dahlan meskipun mungkin banyak generasi baru yang abai, tidak peduli dan meremehkan sejarah Muhammadiyah maupun sejarah Kiyai Ahmad Dahlan. Semoga sampai detik ini dan kelak masih banyak generasi penerus Kiyai Ahmad Dahlan dalam bermuhammadiyah, walau Muhammadiyah dianggap bukan Dahlaniyyah, bukan Darwisiyyah ataupun istilah lainnya. Akan tetapi sejarah Muhammadiyah tak lepas dari nama besar Ulama Pencerah Umat Sang kiyai Ahmad Dahlan yang juga merupakan pahlawan nasional Indonesia. Mari buktikan sebagai santrinya Kiyai Ahmad Dahlan untuk terus mengembangkan sayap Muhammadiyah agar semakin mendunia menuju kehidupan hakiki kelak di akhirat nanti sebagai amal ibadah yang dapat menyelamatkan dari perih nya siksa api neraka.

BACA JUGA :  Muhammadiyah Terjunkan 65 Relawan Bantu Warga Terdampak Banjir Bandang Kota Batu

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Intelektual Muhammadiyah Islam Berkemajuan)