Nilai Kekayaannya Meroket, Tiongkok Kini Jadi Negara Terkaya di Dunia

  • Bagikan
Ilustrasi Malam Kota Sanghai (Pixabay)

WARTAMU.IDMeroketnya nilai kekayaan Tiongkok telah membuat Amerika Serikat kehilangan gelarnya sebagai negara terkaya di dunia. Kini, Tiongkok resmi menjadi menjadi negara terkaya di dunia. Dikutip dari Nationalgeographic.co.id

Pergantian di papan peringkat kekayaan global tersebut diumumkan dalam sebuah laporan dari McKinsey & Co., sebagaimana diberitakan oleh IFL Science. Dikutip dari Bloomberg, leporan tersebut mengungkapkan bahwa nilai kekayaan Tiongkok meroket dari 7 triliun dolar Amerika Serikat pada tahun 2000 menjadi 120 triliun dolar Amerika serikat pada tahun 2020. Nilai ini setara dengan 1,71 kuintiliun rupiah. Besar kuintilun adalah sejuta kali dari besar triliun.

Pada saat yang sama, di tahun 2020, nilai kekayaan Amerika Serikat sebenarnya juga naik, yakni menjadi hampir 90 triliun dolar Amerika Serikat. Namun nilai kekayaan ini jauh dari nilai kekayaan Tiongkok yang ada di posisi nomor satu.

Secara umum, kenaikan nilai kekayaan Tiongkok telah berkontribusi hampir sepertiga dari total peningkatan kekayaan global. Menurut laporan itu, dalam jangka waktu yang sama alias selama dua dasawarsa tersebut, nilai kekayaan global telah meningkat dari 156 triliun dolar Amerika Serikat menjadi 514 triliun dolar Amerika Serikat.

“Kita sekarang lebih kaya dari sebelumnya,” kata Jan Mischke, partnert di McKinsey, dalam laporan Bloomberg sebagaimana dilansir Interesting Engineering.

Namun, kekayaan global ini sebenarnya paling dinikmati oleh segelintir negara saja. Menurut laporan dari Mckinsey tersebut, nilai kekayaan sepuluh negara paling kaya, jika digabungkan, membentuk 60% dari total nilai kekayaan dunia.

Dan jika diselidiki lebih dalam lagi, kekayaaan global ini sebenarnya hanya milik segelintir orang saja. Segelintir orang kaya dari masing-masing negara.

Meskipun status baru sebagai negara terkaya di dunia ini merupakan sebuah kemenangan ekonomi nasional yang cukup besar, itu bukanlah kemenangan yang patut dibanggakan oleh semua warga Tiongkok. Sebab, diperkirakan lebih dari dua pertiga kekayaan Tiongkok hanya dimiliki oleh 10 persen keluarga terkaya di negara itu. Rasio yang sama juga terlihat di Amerikat Serikat yang sekarang duduk di posisi #2 di grafik kekayaan global.

Diperkirakan, nilai kekayaan Tingkok melonjak sangat cepat sejak negara ini menjadi anggota World Trade Organization (WTO), sebuah organisasi antar-pemerintah yang mengatur perdagangan antarnegara. Negara-negara yang menjadi anggota WTO bisa mendapat sejumlah manfaat. Salah satunya, WTO membantu negara-negara tersebut dalam menetapkan aturan perdagangan internasional dan menegakkannya di pasar yang berkembang.

Bagaimanapun, kemajuan ekonomi Tiongkok ini akan menjadi salah satu yang harus diperhatikan di tahun-tahun mendatang. Sebab, pola-pola tertentu dalam peningkatan kekayaan bersih dapat membuat negara-negara tertentu rentan terhadap kehancuran.

Keruntuhan Amerika Serikat pada tahun 2008 yang dipicu oleh kehancuran ekonomi perumahan bisa menunjukkan hal ini dengan sangat baik. Dengan naiknya harga properti yang ikut bertanggung jawab atas kenaikan nilai kekayaan Tiongkok, para ahli perlu mengawasi cuaca dan gejala ekonomi untuk mengantisipasi tanda-tanda bakal adanya peristiwa keuangan serupa.

Laporan McKinsey ini juga mengatakan bahwa 68% dari kekayaan bersih global kini terikat pada bidang real estat. Kekayaan dari bidang ini mencakup aset-aset berupa mesin, infrastruktur, peralatan, serta barnag-barang tidak berwujud seperti paten dan kekayaan intelektual meskipun terdiri atas porsi yang jauh lebih kecil.

“Kekayaan bersih melalui kenaikan harga (aset-aset) di atas dan di luar inflasi dipertanyakan dalam banyak hal,” kata Mischke, dalam laporan Bloomberg. “Itu datang dengan segala macam efek samping.”

Menurutnya, kenaikan harga real estat memang dapat mendorong sebagian besar orang keluar dari pasar real estat sehingga membawa kita lebih dekat ke krisis keuangan substansial seperti yang melanda Amerika Serikat pada 2008, pasca krisis gelembung perumahan.

Krisis keuangan semacam ini juga bisa terjadi pada Tiongkok. Oleh karena itu, kasus utang pengembang properti yang dialami China Evergrande Group perlu menjadi perhatian pemerintah Tiongkok agar krisis keuangan tidak terjadi seacara nasional di negara mereka.

 1,276 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *