RAGAM  

Tujuh Peradaban Yang Harus Dibangun IMM Lampung

Hasbullah : Refleksi Pemikiran Menuju Musyawarah Daerah IMM Lampung ke XII

WARTAMU.ID, Suara Pembaca – Secara harfiah, peradaban itu berasal dari katan “adab” yang memiliki arti akhlak, kesopanan akan budi perkerti. Istilah dari peradaban digunakan untuk memberitahu tentang pendapat terhadap perkembangan kebudayaan disuatu tempat. Sehingga dengan peradaban, kebudyaan pada waktunya menjadi suatu nilai yang memiliki unsur keindahan yang tinggi, keutamanaan kesopanan dan keluhuran sehingga secara prilaku memiliki nilai-nilai keanggunan dan keungglan. Sehingga dapat dijelaskan juga, bahwa kemajuan suatu tempat atau daerah bisa dilihat dari tingginya peradaban ditempat tersebut.

Sebagai organisasi gerakan, tentunya banyak hal yang harus dikaji untuk melahirkan perubahan nilai dan perubahan prilaku untuk lebih baik dan berguna. Menurut Arnold Toynbe beliau menuliskan bahwa peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknoligi yang sudah lebih tinggi. Maka wujud peradaban itu menurut Koentjaraningrat adalah moral, norma, etika dan estetik. Dari sinilah sebenarnya IMM layak menjadi satu komunitas kecerdasan dan pecerahan mampu untuk membangun peradaban sehingga lahir kebudayaan yang berperadaban. Oleh karenanya berikut ini adalah pemikiran tentang “tujuh peradaban yang harus dibangun IMM Lampung” kedepan.

Satu, peradaban ke-Islaman. Peradaban ini menjadi agenda utama bagi IMM yang secara organisasimerupakan gerakan yang menumbuh kembangkan, bahkan mengutamakan nilai-nilai keIslaman. Maka Islam ditengah kaum intelektual, dalam hal ini adalah mahasiswa yang tergabung dalam IMM sudah semestinya ajaran Islam menjadi nilai dasar, landasan kesusilan dan pijakan hubungan pada mansyarakat. Maka nilai keIslaman secara peradaban bukan dihentikan pada tataran konsep dan retorika saja, melain sudah di ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga Islam bukan saja menjadi tolak ukur benar atau salah, baik dan buruk, namun peradaban Islam menjadi satu keilmuan untuk membentuk kesopanan dan kesantunan prilaku. Maka peradaban Islam menjadi nilai dasar dari pola fikir, pola tulisan dan pola tindak kader IMM.

Kedua, perabdaan keilmuan. Harus diakui, bahwa di tengah modernisasi, digitalisasi dan arus informasi yang tak mampu dibendung dengan banyaknya kader. Oleh karenanya, IMM sudah semestinya memiliki langkah untuk melahirkan peradaban keilmuan berbasis modernisasi. Kekurang IMM Lampung belum mampu memaksimalkan media sosial sebagai media keilmuan. Kanal-kanal diskusi keilmuan baik itu yang secara live maupun dalam bentuk tulisan baik artikel maupun jurnal masih sangat lemah. Minimnya ruang diskusi, minat membaca dan menulis masih rendah sehingga peradaban keilmuan kader belum bisa mengimbangi kemajuan keilmuan yang ada. Belum lagi argumentasi tanpa dasar, diskusi tanpa rujukan sering dipertontonkan di tengah pendapat di antara kader baik itu tentang persoalan kehidupan maupun ikatan. Sehingga jejak-jejak keilmuan hampir susah ditemukan pada kader IMM Lampung khususnya.

Ketiga, peradaban Ikatan. Berjuangan dalam ikatan itu merupakan amal saleh yang telah menjadi budaya organisasi. Di awal berdirinya IMM bukan saja untuk memberikan wadah keilmuan, melainkan juga menampilkan keteladanan dalam berjuang dan beramal untuk kemajuan umat berdasarkan nilai-nilai ke-Islaman. Peradaban ikatan, tentunya harus diarahkan, digiring dan dituju pada nilai-nilai keikhlasan yang dapat dijadikan kekuatan untuk menggerakan pimpinan, kader bahkan seluruh mahasiswa yang ada di perguruan tinggi Muhammadiyah. Maka ikatan, ada bukan saja sebagai organisasi untuk berkumpul, melepas keheningan, tempat mencari kawan dan jaringan melainkan juga melahirkan peradaban perjuangan dan amal shaleh.

Keempat, peradaban lingkungan Kampus. IMM yang tentu saja bukan terdiri dari satu suku, kebiasaan dan satu latar belakang namun ia disatukan dengan visi, misi, tujuan dan gerakan dalam bingkai keIslaman dan ke-Muhammadiyahan. Keberadaan IMM tentunya bergerak mulai dari kampus-kampus terutama kampus Muhammadiyah. Dari sini, kader IMM harus juga mampu melahirkan peradaban lingkungan kampus yang berbudaya Muhammadiyah. Lingkungan kampus Muhammadiyah yang hari cendrung hedonis, kapatilis, jauh dari literisasi dan urakan dalam argumentasi. Sehingga lingkungan akedemisi muda belum dapat tercipta, lingkungan dengan bingkai akhlak mulia belum dapat dilahirkan. Seharusnya kader IMM dengan semua sistem perkaderan dan legetimasi organisasi di kampus Muhammadiyah, selayaknya mampu membangun dan menghidupakan peradaban lingkungan kampus yang Islami dan berkemajuan.

Kelima, peradaban perkaderan. Eksistensi kader menjadi tolak ukur dari keberadaan ikatan disetiap level pimpinan, mulai dari komisariat sampai tingkat pusat. Kader itu bukan hanya terbentuk dari proses peradaban perkaderan formal darul arqom dasar, madya maupun purna. Namun perkaderan tentunya dibangun, dibudayakan disetiap momentum kegiatan yang dilaksanakan oleh ikatan. Sehingga semua kader mengalami perkaderan dalam proses bekelanjutan, perkaderan bukan saja pada institusi formal saja. Perkaderan hari ini harus ada disetiap ruang, sudut dan kibaran merah marun setiap waktu. Maka ketika IMM mendaulat sebagai organisasi pencipta kader ikatan, persyarikatan, bangsa dan umat, tentu dari sini peradaban perkaderan harus disesuakan dengan kebutuhan ikatan, persyarikatan, bangsa dan umat. Oleh sebab itu kader diberijalan dan dimotivasi untuk masuk dalam peradaban kehidupan manusia senyatanya.

Keenam, peradaban sosial kemanusiaan. Nilai kepedulian tentunya menjadi nilai titisan dari Muhammadiyah. Namun harus diakui bahwa IMM merupakan organisasi yang fakir akan ketetapan secara dana. Dari sinilah bahwa hari ini IMM harus bisa melahirkan agen-agen filantrofi untuk kemandirian kader dan ikatan. serta juga melahirkan agen pencari fakta dan data tentang keadaan sosial kemanusiaan, dari sini IMM dapat menawarkan gagasan untuk membangun peradaban sosial kemanusiaan dalam kaca mata dan pemikiran mahasiswa Muhammadiyah. Kader IMM tidak bisa berpangku tangan, atas segala persoalan kemanusiaan yang ada. Maka sistemnya harus dibangum, hal ini dilakukan sebagai bentuk alat tolak ukur sejauhmana IMM mampu menggerakan segala potensi untuk kemajuan dan peradaban sosial kemanusiaan.

Ketujuh, peradaban Gerakan Politik. Peradaban ini menjadi penting, setiap masa ke masa kepemimpinan, gerakan politik IMM belum terlihat dan terasa elegan selayaknya kaum intelektual dan mengindetitaskan kaum idealis. Terkesan selama ini politik IMM banci dan mengkor senior dan hanya pengembira di dalam organisasi otonom Muhammadiyah. Sudah saatnya IMM sebagai kumpulan kaum intelektual dan kaum terpelajar, mandiri dalam politik sebagai langkah ijtihat dalam meraih kekuasaan. Peradaban gerakan politik IMM adalah politik yang memiliki nilai tawar dan nilai jual tersendiri, karena IMM memiliki basis jelas untuk mengkaji dan bermanuver dalam politik baik lokal, nasional bahkan internasional. Maka IMM Lampung dalam hal ini harus mampu melahirkan peradaban politik yang berilmu dan beridentitas, politik yang maju dan unggul.

Tentunya ini semua adalah ide dan pemikiran yang masih berpeluang untuk didiskusikan dan dikembangkan. Namun setidaknya dari tulisan ini dapat membantu seluruh kader IMM terutama kader IMM Lampung dalam menggerakan ikatan untuk jauh lebih beradab. Ikatan ini tidak bisa berjalan begitu saja, melainkan harus ada konsep-konsep tertulis sehingga IMM tampil berdasarkan kebutuhan, kemajuan dan keunggulan ilmu, jaringan, keIslaman dan keumatan. Karena kader IMM harus berkiprah disetiap lini kehidupan, sebab semua kader bertanggung jawab atas keadilan, kesejahteraan dan kebijksanaan kehidupan berbangsa, bernegaran dan bermanusia.*

Oleh : Hasbullah
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Mahasiswa Program Doktor UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *