RAGAM  

Umat Islam: Kerukunan, Konflik dan Toleransi

Ilustrasi Gambar oleh Billy Halim dari Pixabay

WARTAMU.ID, Suara Pembaca – Islam adalah agama yang lahir dengan tujuan untuk menjadi rahmatan lil’alamin. Di mana Islam adalah agama yang hadir untuk melahirkan ketenangan, kenyamanan bukan saja untuk pemeluknya, melainkan untuk semua manusia. Islam dalam kegiatan (bermuamalah) menghadirkan dan memberikan kebaikan-kebaikan untuk manusia, sebab sejatinya Islam adalah agama yang memberikan keselamatan bukan saja di dunia melainkan di akhirat. Karena bagi Islam kenikmatan yang besar adalah salah satunya persaudaraan.  Dari sinilah sejatinya toleransi antar interal umat beragama sangat penting, untuk mewujudkan hidup yang indah dan tenang dalam menjalankan praktik ibadah.

Bahwa, Islam hari ini begitu banyak mengalami konflik di internal itu sendiri telah terjadi setelah peninggalan nabi Muhammad saw. Jelaslnya bahwa konflik akan senantiasa terjadi ketika terjadi interaksi antar satu individu dengan individulainnya, kelompok dengan kelompok lainnya. Konflik itu terjadi karena adanya perebedaan.  Padahal dari perbedaan itu justru terlihat corak dan keragaman pemahaman. Dilain sisi, harus difahami perbedaan merupakan kejadian alamiah yang ada dan harus disikapi dengan bijak. Selain itu perbedaan merupakan sunatullah.

Catatan penting bahwa perbedaan itu juga harus dirawat dengan baik, jikalah tidaklah maka dia akan menjadi satu konflik. Perbedaan harus dibaca, difahami dan disikapi dengan baik sehingga perbedaan akan menjadi kehidupan justru jauh lebih baik, indah dan beradaban. Maka perbedaan harus didiskusi, disertai dengan pendapat yang sehat dan penuh kompetisi hal ini akan menghidupan kebaikan dan harmonisasi dalam interaksi kemanusiaan.

Islam memiliki kemajemukan. Kemajemukan itu dapat terlihat dari karakteristik ajaran baik itu yang berkisar ibadah maqhdoh dan ghoiru mahdoh. Sehingga akan terlihat perbedaan jelas dan itu sebenarnya adalah nilai dari keIslaman itu sendiri, karena perbedaan adalah fitrah. Karakteristik umat, Islam sudah dipastikan memiliki berbagai umat yang berkelompok-kelompok karena umat Islam hari ini generasi umat hari ini adalah generasi pewaris. Sehingga dalam proses pengamalan muamalah dalam keIslamnya tentu akan umat akan dipastikan berbeda dengan tujuan mewujudkan nilai-nilai Islam yang sebenarnya.

Kemajemukan itu sendiri juga terlihat  dari simbol-simbol keagamaan, bagaimana bentuk celana, sarung, peci dan lain sebagainya akan berbeda yang ini sebenarnya merupakan alat dakwah Islam itu sendiri. Simbol-simbol agama merupakan alat dakwah Islam yang kadang tidak disadari oleh mereka yang memakainya. Sebenernya simbol merupakan spionase dari perilaku kita agar terus dalam prilaku kebaikan (akhlakul karimah).

Konflik dalam Kerukunan

Konflik-konflik ini terjadi banyak berbagai latar belakang. Pertama, adanya ambisi kekuasaan. Sejauh ini bisa dilihat bahwa tampuk pimpinan menjadi awal dari konlfik yang ada.  Begitu banyak tokoh Islam hari ini berganti profesi untuk menjadi juru bicara kekuasaan dan memperjuangkan kekuasaan. Kekuasaan itu juga penting, tetapi kekuasaan bukan untuk merusak agama melainkan untuk memperkokoh agama dalam hal Islam. kehidupan Islam sudah semestinya menjadi bagian penting dalam kekuasaan. Sehingga kebijakan kehidupan hadir dalam setiap pergulatan perbedaan, sebab semua yang ada dalam Islam saling berkaitan. Karena hari ini kekuasaan begitu banyak saling menjatuhkan, merusak, menghina, membunuh baik itu karakter maupun fisik. Karena kadang kekuasaan akan menjadikan alasan untuk menindas orang atau kelompok tertentu yang akhirnya terjadi konflik antar internal umat beragama  dan salah satu adalah Islam.

Kedua, perbedaan faham. Sebenarnya perbedaan ini dimulai dari dangkalnya pengetahuan dan malasnya untuk belajar. Hal ini akan berdampak pada penerimaan atas perbedaan. Untuk menghilangkan perdaan faham ini kirinya setiap umat Islam harus menghindari egoisme pemahaman, memperkecil perbedaan serta memperjuangkan kesaamaan. Maka tokoh hari ini sudah semestinya hadir memberikan pencerahan dalam perbedaan dan pencerdasan dalam kedangkalan pengetahuan. Islam membutuhkan tokoh-tokoh yang egaliter dan humble, untuk mampu melahirkan kebijakan dalam menyelesaikan segala bentuk perbedaan faham.

Ketiga, fanatik mazhab. Setimen tokoh, keilmuan dan guru juga menjadi awal dari konflik. Keawaman pengetahuan menjadi sumber fanatik mazhab. Perbedaan dalam fiqih atau memahami agama ini setelah juga di contohkan oleh empat imam mazhab yang tidak pernah mengunggulan dari pendapat dirinya sendiri. Tapi tidak ada kesalahan untuk menjadikan satu mazahab sebagai satu landasan dalam melaksanakan ibadah.  Dalam tafsir lain bahwa bagaimana mazhab itu  mampu menjadikan saling menguatkan dan mengingatkan dari kehidupan beragama dan bermasyarakat. Karena Islam ini adalah agama yang mudah, namun bukan untuk dimudah-mudahkan. Islam ini tidak ada yang berat, namun yang berat itu karena Islam  dijalankan dengan tidak menggunakan ilmu.

Melahirkan Tolerasi Dalam Islam

Kesadaran dalam diri setiap umat Islam akan adanya perbedaan dan keragaman dalam pendapat merupakan suatu keniscayaan yang seyogyanya harus dinikmati, dalam arti diterima dan dihadapi. Walaupun juga tidak dapat dihindari adanya perdebatan dalam perbedaan itu sendiri, baik secara individu amupun kelompok. Jika melihat dan memahami ayat Al Qs. Al Hujrat 13, yang bicara tentang keragaman dan perbedaan yang itu semua harus dikenal bukan disatukan. Namun di dalamnya diintruksikan  agar manusia memberikan dan menebar kasih sayang serta mendahulukan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh karenanya, Islam harus dijadikan sebagai sumber moral harus dihadirkan dan kuatkan oleh umatnya. Karena agama harus menjadi pengendalian proses kehidupan, penembar kedamaian dan perangkai keharmonisan. Sehingga tolerasni akan hadir dalam Islam jika pandangan dalam memahami perbedaan tidak sempit, tidak keras dalam menyampaikan pendapat dan tidak melampaui batas dalam menafsirkan perbedaan, akhirnya membenarkan tafsir yang lahiri dari diri sendiri dan menyalahkan tafsir orang lain.

Jangan sampai Islam merupakan umat yang  mayoritas dalam pengikut, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk untuk terus berjuang nilai persoalan kemanusiaan dan mudah dipecah belah. Hadirkan kerukanan dan wujudakan Islam yang rahmatan lil’alamin. Akhirnya mari kita semua mengurus dan merawat umat ini dengan bingkai perbedaan dengan cara mengurus umat ini dengan baik dan benar.

Oleh : Hasbullah
Dosen UMPRI/Mahasiswa S3 UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *