WARTAMU.ID, Sulawesi Utara – Manado, 5 Oktober 2023 – MAARIF Institute menggelar pelatihan LOVE (Living Our Values Everyday: Penguatan Nilai-nilai Inklusi Sosial-Keagamaan) untuk guru-guru pendidikan agama di Manado, Sulawesi Utara. Pelatihan ini berlangsung selama tiga hari, dimulai dari Rabu, 4 Oktober, hingga Jumat, 6 Oktober 2023.
Kegiatan ini diikuti oleh 21 peserta guru agama dari berbagai Lembaga Sekolah Menengah Atas (SMA/MA) dan Kejuruan (SMK) dengan klasifikasi lintas agama dan lintas organisasi keagamaan, termasuk Muhammadiyah, NU, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha.
Direktur MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali, membuka pelatihan ini dengan memberikan paparannya. Dalam sambutannya, Abd. Rohim Ghazali menjelaskan bahwa pelatihan LOVE merupakan bagian dari upaya MAARIF Institute untuk mendorong nilai-nilai kemanusiaan, integritas, keterbukaan, dan pembaharuan.
“Kami bergerak di bidang pendidikan, dan saat ini kami memberikan pelatihan kepada guru-guru agama. Kami percaya bahwa guru memiliki peran penting sebagai jembatan untuk menyampaikan pengetahuan dan gagasan kepada siswa, terutama dalam hal keagamaan, toleransi, dan kebinekaan,” ujar Abd. Rohim Ghazali.
Pendekatan ini juga sejalan dengan pernyataan Moh. Shofan, yang mengingatkan bahwa kasus-kasus bullying, kekerasan seksual, dan intoleransi semakin meningkat dalam dunia pendidikan. Melalui pendekatan inklusif, diharapkan guru-guru dapat menjadi pelindung dan panutan bagi siswa untuk mengatasi masalah ini.
“Bullying, kekerasan seksual, dan intoleransi adalah masalah besar dalam dunia pendidikan. Kami berharap guru-guru yang mengikuti pelatihan ini dapat menjadi penyelamat dan guru yang dicintai oleh siswa dalam mengatasi masalah-masalah ini, serta membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik,” tambah Shofan.
Selama pelatihan LOVE, sejumlah narasumber berkompeten hadir untuk memberikan pemahaman yang mendalam. Taufani dari IAIN Manado membahas peran penting guru dalam penanaman pemahaman tentang keagamaan dan intoleransi di sekolah. Ia menyoroti bahwa sifat intoleransi bisa muncul akibat ajaran radikal yang disampaikan oleh beberapa pihak, terutama jika guru hanya membaca teks kitab suci secara kontekstual tanpa pemahaman yang mendalam.
Natalia Olivia Kusuma Dewi Lahamendu, dosen di IAKN Manado, membahas pentingnya inklusi keagamaan dan kebudayaan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat.
Ikmal, narasumber ketiga, menggarisbawahi penurunan nilai-nilai spiritualitas pada generasi muda saat ini. Ia menekankan perlunya penanaman kembali nilai-nilai keagamaan yang sesuai dengan nilai-nilai kebinekaan Indonesia.
Seminar ini berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme dari para peserta pelatihan. Mahatir Manese yang bertindak sebagai moderator menyimpulkan bahwa masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan pentingnya peran guru dalam mengatasi permasalahan-permasalahan ini. Semua pihak diharapkan memiliki kesadaran penuh dalam menanggulangi dan menyelesaikan tantangan dalam dunia pendidikan.
Pelatihan LOVE ini menjadi langkah nyata dalam membangun pendidikan yang inklusif, toleran, dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah keberagaman masyarakat Sulawesi Utara.












