RAGAM  

IMM Malang Raya Tekankan Moderasi Beragama sebagai Upaya Cegah Radikalisme

Prof. Gonda juga menekankan bahwa terorisme tidak identik dengan satu agama tertentu. Hampir semua agama memiliki sejarah keterkaitan dengan aksi teror, seperti kasus Inderjit Singh Reyat di India (1985), Shoko Asahara di Jepang (1995), maupun Jim Jonnes di Guyana (1978).

WARTAMU.ID, Malang – Sebagai bentuk ikhtiar dalam menguatkan moderasi beragama dan mengarusutamakan nuansa Islam rahmatan lil alamin, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Malang Raya menyelenggarakan Webinar Moderasi Beragama dengan tema “Mengurai Akar Terorisme: Perspektif Sosial, Ekonomi dan Ideologi di Balik Aksi Kekerasan” pada Rabu malam (20/8/2025).

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Google Meet ini diikuti oleh puluhan kader IMM Malang Raya dan Jawa Timur. Dua narasumber utama hadir dalam diskusi ini, yakni Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nafik Muthohirin dan Ketua Program Studi (Kaprodi) Hubungan Internasional UMM Prof. Gonda Yumitro.

Dalam pemaparannya, Nafik Muthohirin menekankan bahwa konsep jihad dalam Al-Qur’an seringkali disalahpahami. Dari keseluruhan surat, hanya terdapat 28 surat yang bisa dijadikan rujukan jihad, bahkan kata jihad sendiri hanya disebut empat kali, yakni dalam Surat At-Taubah ayat 24, Al-Hajj ayat 78, Al-Furqon ayat 52, dan Al-Mumtahanah ayat 1.

“Di Al-Qur’an kata jihad tidak secara detail memerintahkan umat Islam untuk berperang. Malah sebaliknya, jihad dimaksudkan untuk mencintai Allah dan Rasul melebihi kecintaan kita terhadap keluarga dan apapun yang kita miliki,” jelas Nafik.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa terorisme tidak hanya muncul dari tafsir keagamaan yang keliru, tetapi juga akibat geopolitik dan kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan umat Islam. Seiring perkembangan, pola serangan terorisme berubah menjadi aksi tunggal atau lone wolf yang marak pasca-bubarnya ISIS.

“Strategi serangan lone wolf dilakukan tanpa instruksi organisasi. Mereka bergerak mandiri, menentukan target sendiri, sehingga cukup sulit dideteksi aparat,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. Gonda Yumitro menjelaskan bahwa terorisme lahir dari faktor global, regional, nasional, hingga kultural. Ia mencontohkan bahwa setiap individu memiliki motif berbeda dalam terlibat jaringan terorisme, mulai dari faktor ekonomi, ketidakadilan, hingga kebutuhan eksistensi diri.

“Masing-masing orang punya motif berbeda. Ada yang karena kemiskinan, diskriminasi, atau bahkan sekadar ingin diakui. Seperti kasus mahasiswa di Malang yang bergabung dengan jaringan terorisme karena ingin menunjukkan eksistensi diri di tengah diskriminasi keluarga,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Sajian Lezat! Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Kelompok 94 PMM Mulyoagung Menggelar Workshop Daun Kelor: Kuliner Sehat dengan Kandungan Gizi Tinggi

Prof. Gonda juga menekankan bahwa terorisme tidak identik dengan satu agama tertentu. Hampir semua agama memiliki sejarah keterkaitan dengan aksi teror, seperti kasus Inderjit Singh Reyat di India (1985), Shoko Asahara di Jepang (1995), maupun Jim Jonnes di Guyana (1978).

Melalui webinar ini, IMM Malang Raya berharap agar kader dan masyarakat luas dapat lebih memahami akar persoalan terorisme secara komprehensif serta memperkuat semangat moderasi beragama di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.