PCIA Jepang Resmi Dikukuhkan, Tebarkan Dakwah Perempuan Berkemajuan

Pengukuhan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PCIM PCIA) Jepang

WARTAMU.ID, Tokyo – “Berdirinya PCIA dan PCIM menjadi salah satu bukti bahwa program internasionalisasi Muhammadiyah ‘Aisyiyah serius dilakukan. Selain memperkenalkan ‘Aisyiyah Muhammadiyah ke negara Bapak Ibu berada tetapi juga memperkenalkan transformasi gerakan ‘Aisyiyah Muhammadiyah dan bagaimana faham ‘Aisyiyah Muhammadiyah bisa di ekspor ke seluruh dunia, memperkenalkan tujuan Muhammadiyah yang sangat mulia.” Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah dalam Pengukuhan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PCIM PCIA) Jepang pada Ahad (24/9/23).

Misi utama internasionalisasi ‘Aisyiyah disebut Salmah adalah mensyiarkan paham tentang perempuan berkemajuan di mana alam pikiran dan kondisi kehidupan perempuan yang maju dalam segala aspek kehidupan tanpa mengalami hambatan dan diskriminasi baik secara struktural maupun kultural sejalan dengan ajaran Islak. Konsep ini dijelaskan Salmah menempatkan perempuan dan laki-laki setara di hadapan Allah, memuliakan laki-laki dan perempuan tanpa diskriminasi memiliki misi ubudiyah mewujudkan Islam Rahmatan lil Alamin.

Pengukuhan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PCIM PCIA) Jepang

Lebih lanjut Salmah menyampaikan harapannya agar setelah PCIA resmi berdiri dapat merespon berbagai permasalahan yang ada. Terlebih menurutnya berbagai persoalan masih dihadapi oleh perempuan di berbagai belahan dunia. “Persoalan perempuan masih menjadi banyak perdebatan, perempuan masih menduduki posisi yang tidak menggembirakan dan doktrin keagamaan yang mendiskriditkan peran perempuan.” Termasuk juga berbagai persoalan yang dihadapi oleh pekerja migran perempuan. Salmah menjelaskan jika permasalahan perempuan pekerja migran Indonesia ini juga menjadi salah satu isu strategis ‘Aisyiyah dan menjadi fokus gerakan ‘Aisyiyah.

“Setelah PCIA berdiri kami berharap ada gerakan PCIA yang merespon permasalahan yang ada di seluruh dunia sehingga agenda internasionalisasi ‘Aisyiyah yany merupakan implementasi Risalah Islam Rahmatan lil Alamin dan Perempuan Berkemajuan dapat terus dikembangkan,” tegasnya.

Ketua PCIA Jepang terpilih periode 2023-2025, Kholifatul Arifah menyampaikan bahwa ini adalah kepengurusan pertama ‘Aisyiyah Jepang setelah sebelumnya aktif menjadi bagian di Muhammadiyah Jepang. “Karena banyak muslimah yang mengikuti kegiatan Muhammadiyah, akhirnya kami memberanikan diri mengadakan kegiatan sendiri. Kegiatan ini antara lain berupa kajian tahsin online yang diadakan setiap Ahad pagi.”

Arifah menyebut bahwa kini anggota ‘Aisyiyah Jepang sudah mencapai lebih dari 50 orang. Pencapaian yang menurutnya sangat besar yang diawali dengan empat orang anggota. Para anggota ‘Aisyiyah tersebut terdiri dari beragam latar belakang mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswi, hingga para pekerja di Jepang. “Tetapi kami tidak akan berhenti di 50 ini saja, Insya Allah kami akan berjuang mengenalkan ‘Aisyiyah di Jepang ini.”

Pengukuhan PCIM dan PCIA Jepang ini dilaksanakan secara hybrid dengan lokasi luring bertempat di Wisma Kedutaan Besar RI di Tokyo atau Wisma Duta. Turut hadir membersamai PCIM dan PCIA di lokasi adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi.

Dubes menyebut keberadaan Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pengurus Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) di Negeri Sakura, sebagai motor penggerak industri kesehatan, pendidikan, dan penguatan UMKM.

“Muhammadiyah sejak sebelum dan setelah kemerdekaan terus konsisten merekatkan persatuan termasuk berkontribusi besar dalam pemajuan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Heri. Sehingga Heri juga mendukung peran aktif PCIM dan PCIA Jepang untuk menguatkan warga negara Indonesia yang ada di Jepang. KBRI Jepang menurutnya akan terus bekerjasama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk PCIM dan PCIA.

Apalagi, warga negara Indonesia (WNI) di Jepang pada pertengaahn 2023 menurut data imigrasi Jepang mencapai lebih 120 ribu orang. “70 persen di antaranya adalah pekerja migran. Diharapkan kerja sama erat dengan PCIM dan PCIA untuk membantu dan merawat warga kita yang membutuhkan, semua itu tidak dapat dilakukan sendiri oleh KBRI,” tambahnya.

Ridwan Wicaksono, Ketua PCIM Jepang mengapresiasi dukungan penuh Heri Akhmadi beserta KBRI Tokyo dalam pelantikan PCIM dan PCIA Jepang periode 2023-2025 ini. Gerakan Muhammadiyah disebutnya akan mencerahkan masyarakat melalui program yang dirancang, baik melalui pendidikan, kesehatan, bakti sosial, dan dakwah Islam. Terlebih menurut Ridwan sudah banyak sekali warga Muhammadiyah yang aktif di berbagai lokasi di Jepang bahkan sebelum PCIM terbentuk. “Kader Muhammadiyah tanpa wadah Muhammadiyah sudah banyak berkontribusi dalam pergerakan perjuangan Islam dan pendidikan atau tenaga medis di Jepang ini.”

Pengukuhan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PCIM PCIA) Jepang

Oleh karena itu ia optimis akan semakin banyak lagi peran aktif yang bisa dimainkan oleh warga Muhammadiyah yang di Jepang kedepannya. “Kontirbusi bapak ibu menjadi penyemangat agar pengurus baru PCIM PCIA senantiasa istikomah dan mohon dukungan dan doa agar kami bisa purna tugas husnul khotimah.”

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto dalam penyampaian amanatnya mendukung PCIM dan PCIA dapat menjalankan peran membawa bendera Muhammadiyah secara aktif di Jepang. Selain menjadi paguyuban dan menjalankan fungsi dakwah tetapi juga dapat melakukan fungsi kaderisasi.

Selain itu, PCIM dan PCIA juga dapat menjadi jembatan penghubung bagi berbagai amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang ada di Indonesia dalam rangka meraih kemajuan.

Agung juga mendorong Muhammadiyah Jepang dapat berproses dan mendapatkan pengakuan sebagai badan hukum dari pemerintah Jepang sehingga dapat mengembangkan amal usaha. “Akan luar biasa jika bisa mendapatkan badan hukum dari Jepang dan bisa mengelola dan mengembangkan amal usaha khas Jepang,” papar Agung.

Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan Muhammadiyah di Australia dengan mendirikan sekolah dan di Malaysia dengan mendirikan Perguruan Tinggi. “Kemudian berjejaring dengan yang ada di Indonesia, tentu akan menjadi keunggulan tersendiri,” pungkas Agung.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *